Rabu, 16 Januari 2013


BAB I
                                                  PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG 
Pendidikan disiplin merupakan suatu proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu, terutama untuk meningkatkan kualitas mental dan moral (Sukadji, 1988). Di dalam keluarga pendidikan disiplin dapat diartikan sebagai metode bimbingan orang tua agar anaknya mematuhi bimbingan tersebut. Setiap orangtua pasti berusaha untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya, dengan menanamkan perilaku yang dianggap baik dan menghindari perilaku yang dianggap tidak baik. Hal ini memang akan lebih mudah dilakukan jika anak sebagai seorang individu mematuhi kemauan orang tuanya. Namun demikian, tujuan utama dari disiplin bukanlah  hanya sekedar menuruti perintah atau aturan saja. Patuh terhadap perintah dan aturan merupakan bentuk disiplin jangka pendek. Sedangkan tujuan pendidikan disiplin adalah agar setiap individu memiliki disiplin jangka panjang, yaitu disiplin yang tidak hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan atau otoritas, tetapi lebih kepada pengembangan kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri sebagai salah satu ciri kedewasaan individu. Kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keingian orang lain, dan mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi. Hal inilah yang sesungguhnya menjadi hakekat dari disiplin.
Terkadang kita menemui masalah disiplin ini didalam kelas, sehingga siswa-siswa yang terlibat dalam kekacauan kelas tidak bisa belajar. Sesungguhnya Pembentukan disiplin diri merupakan suatu proses yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu pendidikan disiplin pertama-tama sudah dimulai dari keluarga (orang tua). Dalam kehidupan masyarakat secara umum, metode yang paling sering digunakan untuk mendisiplinkan warganya adalah dengan pemberian hukuman. Hal yang sama dilakukan juga oleh sebagian besar orang tua atau pun guru dalam mendidik anak-anak atau murid-murid. Kerugiannya adalah disiplin yang tercipta merupakan disiplin jangka pendek, artinya anak hanya menurutinya sebagai tuntutan sesaat, sehingga seringkali tidak tercipta disiplin diri pada mereka. Hal tersebut disebabkan karena dengan hukuman anak lebih banyak mengingat hal-hal negatif  yang tidak boleh dilakukan, daripada hal-hal positif yang seharusnya dilakukan.
Dampak lain dari penggunaan hukuman adalah perasaan tidak nyaman pada anak karena harus menanggung hukuman yang diberikan orangtuanya jika ia melanggar batasan yang ditetapkan. Tidak mengherankan jika banyak anak memiliki persepsi bahwa disiplin itu adalah identik dengan penderitaan. Persepsi tersebut bukan hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga seringkali dialami oleh orangtua mereka. Akibatnya tidak sedikit orangtua membiarkan anak-anak "bahagia" tanpa disiplin. Tentu saja hal ini merupakan suatu kekeliruan besar, karena di masa-masa perkembangan berikutnya maka individu tersebut akan mengalami berbagai masalah dan kebingungan karena tidak mengenal aturan bagi dirinya sendiri.
Tidak ada hal yang lebih penting dalam manajemen diri dibandingkan dengan kedisiplinan. Selain pentingnya menemukan arah dan tujuan hidup yang jelas, kedisiplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai impian kita atau melaksanakan misi hidup kita. Kita harus disiplin dalam mengembangkan diri kita (lifetime improvements) dalam segala aspek, kita harus disiplin dalam mengelola waktu dan uang kita, kita harus disiplin dalam melatih keterampilan kita dalam setiap bidang yang kita pilih. Kita seharusnya belajar banyak dari orang-orang luar biasa dalam sejarah umat manusia.
Dalam belajar pun kedisiplinan sangat penting, orang yang berhasil dalam berbisnis dan belajar adalah orang yang keras terhadap dirinya sendiri atau orang yang dsisiplin terhadap waktu dan lain – lain. Maka kesimpulan pendek yang dapat kita tarik adalah Jika ingin berhasil dalam belajar kedisiplinan maka harus ditegakkan.
B.  IDENTIFIKASI MASALAH
            Identifikasi penulis dalam penulisan studi kasus ini yaitu:
§  Kurangnya disiplin siswa dalam menjalankan peraturan sekolah.
§  Kurangnya disiplin dalam proses pembelajaran, seperti ribut, tidak teratur dan lain-lain.

C.  PEMBATASAN MASALAH
Untuk mempermudah dalam penulisan studi kasus, dikarenakan skope pembahasannya yang luas maka penulis membuat batasan masalah hanya berkisar pada masalah : Kurangnya disiplin dalam belajar.
D. RUMUSAN MASALAH
1.      Mengapa pentingnya disiplin dalam belajar?
2.      Bagaimana untuk meningkatkan disiplin diri?
 
 BAB II
PEMBAHASAN
A.     TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Adapun teknik pengumpulan data dalam pembuatan studi kasus ini  adalah
v  Observasi  yaitu  pengamatan langsung terhadap gejala – gejala yang dijumpai dilapangan sehubungan dengan studi kasus ini.
v  Interview yaitu dengan menanyakan kepada guru-guru bagaimana sikap siswa-siswa SMPN 5 Bengkalis terhadap kedisiplinan sekolah dan sikap didalam kelas.

B.     RUANG LINGKUP
Ada beberapa masalah yang penulis dapati ketika mengikuti praktik mengajar di SMP Negeri 05 Bengkalis kurangnya motivasi dan juga malas dalam belajar dan malas mengerjakan tugas yang diberikan guru, kurang disiplinnya siswa terhadap peraturan sekolah dan belajar. Dalam beberapa masalah yang ditemui tersebut Penulis, maka penulis merasa tertarik untuk membuat sebuah studi kasus yang merupakan syarat dalam menyelesaikan tugas  akhir dari Praktik Mengajar yaitu : ”KURANGNYA  DISIPLIN DALAM BELAJAR”

B. Teori- Teori Pemecahan Masalah 
            Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan.  John Maxwell mendefinisikan ‘disiplin’ sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu (antara 30 – 90 hari), ‘disiplin’ akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang.
            Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:
Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat. Buat urutan prioritas hal-hal yang ingin kita lakukan. Buat jadwal kegiatan secara tertulis (saya selalu menempelkan jadwal kegiatan saya di dinding depan meja kerja saya di rumah).  Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku. Jika perlu, kita dapat mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi. Berusahalah untuk senantiasa disiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri. Sekali kita tidak disiplin atau menunda kegiatan tersebut, akan sulit bagi kita untuk kembali melakukannya. Penjelasan ini membawa kita untuk mengetahui dan memahami diri kita, cara mengubah realitas, cara memanfaatkan potensi luar biasa dalam diri kita. Namun, semua ini tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita harus melakukan sesuatu untuk kehidupan kita karena hanya kita sendiri yang dapat mengubah kehidupan kita. Melakukan sesuatu berarti mengambil langkah pertama, yaitu menetapkan tujuan atau target kita dan jangan menunda sampai situasi sempurna bagi kita. Kemudian, lakukan terus dengan disiplin, sehingga kita berhak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Pembentukan disiplin diri merupakan suatu proses yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu pendidikan disiplin pertama-tama sudah dimulai dari keluarga (orangtua). Dalam kehidupan masyarakat secara umum, metode yang paling sering digunakan untuk mendisiplinkan warganya adalah dengan pemberian hukuman. Hal yang sama dilakukan juga oleh sebagian besar orangtua atau pun guru dalam mendidik anak-anak atau murid-murid. Kerugiannya adalah disiplin yang tercipta merupakan disiplin jangka pendek, artinya anak hanya menurutinya sebagai tuntutan sesaat, sehingga seringkali tidak tercipta disiplin diri pada mereka. Hal tersebut disebabkan karena dengan hukuman anak lebih banyak mengingat hal-hal negatif  yang tidak boleh dilakukan, daripada hal-hal positif yang seharusnya dilakukan.
Walaupun dalam merespon perilaku setiap individu akan memiliki cara-cara berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada beberapa hal pokok yang dapat diacu sebagai dasar merespon setiap perilaku dalam rangka pendidikan disiplin, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Berkelanjutan
Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan, artinya disiplin tidak hanya diberikan setelah anak masuk sekolah atau setelah masa remaja, tetapi harus sudah dilatih sejak anak baru dilahirkan ke dunia ini. Sejak anak membutuhkan kedekatan dengan orang dewasa, membutuhkan kasih sayang orang dewasa. Orang tua dapat memulai mendidik disiplin dengan menunjukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang jelek. Sebagai contoh agar anak dapat disiplin dalam buang air, maka orang tua harus secara berkelanjutan dan konsisten dalam membersihkan dan mengganti pakaian sang bayi, ia di kenalkan pada situasi yang menyenangkan dan tahu apa yang harus dilakukan dengan semestinya sejak dini. Dengan perlakuan orang tua yang demikian akan meringankan tugas pada masa berikutnya karena anaknya tidak akan mengenal ngompol. 
2.  Autoritatif
Pendidikan disiplin sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang terlalu otoriter, tetapi juga tidak terlalu memperbolehkan semuanya (permisif). Cara yang tepat dalam pendidikan disiplin bagi remaja disebut dengan istilah moderatnya autoritatif : fleksibel, tetapi bila perlu tegas. Dalam menerapkan cara disiplin yang permisif (dapat dikatakan sebagai mendidik tanpa disiplin) cenderung menghasilkan anak remaja yang manja, semena-mena, anti sosial dan cenderung agresif. Sebaliknya, disiplin yang keras yang terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja. Hal ini dapat membuat remaja menjadi seorang penakut,  tidak ramah dengan orang lain,  dan membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif bahkan ada pula yang pada akhirnya melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial akan lebih berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutam. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Ada pula yang menimbulkan pembelotan, hal ini terjadi terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain untuk memenuhi kebutuhan yang mendasar. Contoh: remaja dilarang untuk keluar bermain, tetapi di dalam rumah ia tidak melakukan apa-apa dan tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka.
3.  Beri Batas-Batas yang Jelas
Batas-batas tentang boleh atau tidak boleh haruslah jelas,  misalnya kapan anak boleh bermain, dimana dan dengan siapa sehingga anak tidak menganggu orang lain dan menghindarkan anak dari kecelakaan. Sejak masa kanak-kanak orangtua harus sudah memberikan batasan-batasan tersebut. Misalnya: anak boleh mengambarkan dengan pensil warna dikertas-kertas, dipapan yang telah ditentukan, tetapi tidak boleh di buku pelajaran kakaknya, buku ayah atau ibu, dan tidak boleh menggambar di tembok.  Penting bagi orangtua untuk mengingat bahwa batasan dan fasilitas yang diberikan oleh orang tua, hendaknya memenuhi kriteria tertentu: diperlukan, masuk akal, diberikan dengan penuh ketulusan dan kebaikan hati, dan secara konsisten sesuai kematangan anak. Fasilitas dianggap diperlukan bila anak dapat mencapai kemajuan yang lebih baik jika adanya fasilitas tersebut. Batas dan fasilitas dianggap masuk akal bila memenuhi pertimbangan kesehatan dan keadilan. Kebaikan hati adalah keinginan dalam memenuhi kebutuhan anak untuk berkembang seoptimal mungkin tanpa melampaui kemampuan anak mengontrol diri. 
4.  Konsisten & Fleksibel 
Setelah batas-batas ditentukan, maka orangtua harus mengupaya kesepakatan dengan anaknya untuk saling mematuhi apa yang telah ditentukan. Walau demikian, batas-batas yang ditentukan ini harus terus direvisi sesuai dengan perkembangan anak dan anak telah mencapai remaja maka penentuannya harus mengikut sertakan masukan dari remaja. Dengan cara tersebut diharapkan dapat membantu remaja untuk lebih cepat mengembangkan tanggung jawab atas disiplin diri.
Meski batas-batas telah ditentukan ada kalanya keadaan memaksa dan batas tersebut terpaksa dilanggar. Dalam kondisi ini orangtua perlu segera memberitahu dan menjelaskan pada remaja  bahwa keadaan tersebut dapat dipahami dan diterima oleh orangtua namun bukan berarti bahwa batasan yang telah ditentukan tidak berlaku lagi. Sikap dan komunikasi orang tua semacam ini akan dapat mengurangi rasa berdosa, penyesalan bahkan rasa sakit hati yang tidak diperlukan.
5.  Komunikasi 
        Dalam kenyataan sehari-hari, banyak masalah yang berhubungan dengan disiplin sebenarnya dapat diselesaikan dengan menggunakan komunikasi timbal balik yang efektif  antara anak dan orangtua.  Dalam hal ini cara-cara berkomunikasi akan memegang peranan penting dalam pembentukan disiplin. Komunikasi dalam bentuk sindiran, hinaan, merendahkan harga diri orang lain hendaknya digunakan seminimal mungkin, bahkan harus dihindari sama sekali. Anak dan remaja sangatlah peka terhadap hal ini, dan dapat sakit hati karenannya. Jika cara-cara tersebut yang digunakan untuk mendisiplinkan anak, cara-cara demikian akan cenderung ditiru dalam hubungan interpersonal dengan orang-orang lain yang akibatnya dapat merugikan diri sang anak maupun orang lain.
            Menurut Sri Esti Wuryani Djiwandono didalam bukunya psikologi Pendidikan, Ada beberapa cara untuk membantu mengembangkan disiplin yang baik di kelas:
1)      Perencanaan, meliputi membuat aturan dan prosedur dan menentukan konsekuen untuk aturan yang dilanggar. Jauh sebelum siswa datang, seorang guru harus mencoba meramalkan organisasi apa yang diperlukan dan menentukan bagaimana merespon masalah yang tak terelakkan.
2)      Mengajar siswa bagaimana mengikuti aturan. Pekerjaan ini harus dimulai pada hari pertama masuk kelas. Hasil dari penelitian bahwa beberapa minggu pertama dalam kelas adalah masa kritis dalam mengembangkan pola-pola disiplin yang efektif dan komunikasi yang baik antara guru dan siswa.
3)      Merespons secara tepat dan konstruktif ketika masalah timbul (seperti yang selalu guru lakukan). Contoh, apa yang akan kita lakukan ketika siswa menantang kita secara terbuka  di muka kelas; ketika seorang siswa menanyakan kita bagaimana menyelesaikan masalah yang sulit; ketika kita menangkap seorang siswa yang menyontek; ketika seorang siswa “hilang” dan tidak mau berpartisipasi. Maka penggunaan waktu yang efesien dan kegiatan pengajaran yang diatur secara hati-hati akan mengurangi sebagian besar masalah tingkah laku/kedisiplinan.   
 

BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN

·         Lembaga pendidikan, sebagai wadah tempat berkumpulnya agen-agen perubahan sosial dan segala perangkatnya, haruslah memiliki prinsip kebersamaan atau kerjasama yang baik antar lembaga dan anggota serta orang-orang yang berkepentingan di dalamnya, tanpa kerjasama yang baik, semua cita-cita yang menjadi tujuan berdirinya lembaga pendidikan ibarat asap yang terlihat tebal akan tetapi mudah sirna dengan sendirinya. Maka antara guru dan siswa harus saling bersinergi dimana guru sebagai pembuat peraturan dan juga sebagai contoh tauladan bagi murid-muridnya, dan muridpun harus mentaati dan berdisiplin dengan peraturan yang ada.
ü  Pemerintah melalui Undang-undang Sisdiknasnya yang menitikberatkan cita-cita luhur pendidikan haruslah menjadi motivator pada pembentukan pribadi yang memiliki kecerdasan akal dan spiritual, dengan menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan dan kerjasama yang baik dengan elemen-elemen pendidikan itu sendiri.
ü  Sehingga dihadapkan dalam belajar pun kedisilpinan sangat penting, orang yang berhasil dalam berbisnis dan belajar adalah orang yang keras terhadap dirinya sendiri atau orang yang dsisiplin terhadap waktu dan lain – lain. Maka kesimpulan pendek yang dapat kita tarik adalah Jika ingin berhasil dalam belajar kedisiplinan musti harus ditegakkan. Maka kedisiplinan itu sangat penting.
·         Untuk meningkatkan kedisiplinan diri maka harus dimulai dari dini yang pembentuk awalnya adalah keluarga. Dan jika disekolah maka guru memiliki peran penting untuk membentuk kedisiplinan dengan perencanaan, bagaimana mengikuti aturan, merespons secara tepat dan konstruktif serta menggunakan waktu yang efisien. Namun kesadaran dirilah yang membentuk jiwa disiplin yang permanen.

B.        SARAN
                  Untuk menerapkan kedisiplinan memang bukan hal yang mudah, tapi karena dimulai dari dini tentang penanaman nilai-nilai kedisiplinan ini semoga anak-anak kita nantinya akan terbiasa berperilaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dan guru berperan penting untuk membentuk siswa agar disiplin dalam belajar
 
DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Syaiful Djamarah. 2002. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta. Rineka Cipta.
Gordon Dryden dan Jeannette Vos. 2000. Revolusi Cara Belajar. Bandung: Mizan Media Utama.
Hamalik, Umar 2005 Kurikulum Dan Pembelajaran, PT Bumi aksara.jakarta cet 4
Sri Esti Wuryani Djiwandono.2002. Psikologi Pendidikan. Malang: Grasindo.
Uhbiyah.Nur 1997. Ilmu Pendidikan Islam. Pustaka setia. cet 2. Bandung.
Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disipin pada perilaku dan Prestasi Siswa.  Jakarta : Grasindo.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar